Ganti avatar. Yes.
Yang seru dari diskusi tentang participatory design bersama @RujakRCUS di @IFI_JAKARTA kemarin pagi (2/3) adalah di luar dugaan banyak sekali ilmu yang bisa diserap. Aseeek.
Bagaimana melakukan pendekatan warga Kota Labuhan Bajo dan Desa Komodo, sehingga bersedia ikut berpartisipasi. Bagaimana mengidentifikasi, memanfaatkan potensi, menyiasati masalah, dan lain sebagainya. Ini melempar ingatan saya 2,5 tahun silam KKN di Code. :D
Dalam forum ini saya menarik simpul bahwa pendekatan dengan masyarakat mengambil peran sangat penting. Lebih dari pekerjaan teknis desain itu sendiri. Itu simpul yang saya tarik sendiri sih.. :p
Berikut catatan acak dari hasil diskusi..
- Labuan Bajo, terdiri atas Kampung Air, Kampung Tengah dan Kampung Ujung. Kampung Air terletak paling dekat mata air. Kampung Ujung, terletak paling ujung dan paling jarang ditinggali penduduk. Para turis luar negeri ternyata suka menginap di kapal pesiar yang menjangkar di dekat daratan ini, alih-alih bermalam di area permukiman, karena fasilitas yang belum memadai (bagi mereka).
- Pulau Komodo adalah taman nasional, jadi keberadaan lingkungannya dilindungi. Yang saya baru tahu pulau ini hanya memiliki satu permukiman, namanya Desa Komodo. Yang tinggal pun hanya sekitar 400-500 KK. Pulau Komodo ini lho yang digadang-gadang jadi new7wonder. Dan pertanyaannya, warga di sana siapkah?
Cerita tentang Tugas Akhir Permagarden, Dining & Landscape (2009 - 2011)
Permakultur, saya akrabi ketika Kerja Praktek di Tabanan, 2009. Sepulang dari Bali, sepanjang perjalanan di bus malam Safari Dharma, saya bersemangat memikirkan ide tugas akhir. Tentang sebuah restoran, lansekap, dan berkaitan erat dengan sustainabilitas. Diangkatlah tema permakultur. Dituang dalam selembar A4 coret-coretan. Apakah permakultur itu? TIdak akan dibahas di sini. :p
Singkatnya, setelah kerja praktek usai, mulailah Pra TA, 6 bulan. Jeda merintis studio kecil, 3 bulan. Transformasi Desain, 2 bulan. KKN di Code, 2 bulan. Jeda magang, 3 bulan. Pengembangan Desain, 2 bulan. Lalu barulah lahir Permagarden. Iya, panjangnya…
2010, seperti kita tahu, tahunnya Merapi. November kala itu, saya mulai fase akhir TA: Pengembangan Desain. Dan erupsi Merapi mau tidak mau ikut mempengaruhi tugas akhir saya. Bayangkan, site saya ada di 13 km dari puncak, dekat kali Kuning. Habislah bakal dibantai dosen kalau ada bangunan komersial nekat dekat-dekat zona bahaya. Walaupun sempat membuat desain nyaris berubah total, sisi kelemahan site ini justru akhirnya menjadi konteks yang memikat.
Fakta sekitar Tugas Akhir:
Jakarta itu..
Beberapa teman mungkin dengan enteng berkomentar: “gue sih enjoy-enjoy aja hidup di Jakarta”. Tapi bagi saya, kok masih aja ngganjel ya… Ya nggak semuanya jelek sih. Ada enaknya juga.
Oke mari kita bikin list plus minus. Bakal sedikit terdengar klasik ya.
Jakarta + (plus):
Jakarta - (minus):
Yak hanya dengan ketiga poin di atas inilah yang membuat saya masih ngganjel untuk berganti KTP, berkeluarga dan beranak-pinak di Jakarta. Terutama poin 1 dan 3. Sistem transport yang buruk bisa menjadi bencana dan menggugurkan semua yang menggiurkan di ibukota. Berbalik jadi faktor pemicu stres. Yagitudeh.
Intinya sih..
Untuk saya saat sekarang ini, masih aman lah ya hidup di Jakarta. Tidak ada tanggungan lain. Nothing to lose. Masih bisa dibuat enjoy. Naik bis umum kemana-mana. Tapi kalau sampai berkeluarga dan berkembang biak di sini. Hmm. Nanti dulu..
Jogja mana Jogja??
Iseng. Maksa banget :)))
“Kapan jalan-jalan lagi?”
Ini tagline favorit saya menjelang bulan-bulan kuartal akhir tahun ini.
Berperjalanan, atau jalan-jalan, bagi sebagian orang membuat mereka menjadi kaya, termasuk saya.
Sungguh, di dalam ritual perjalanan itu, sebetulnya tertanam sebagian benih-benih karakter orang-orang untuk menjadi kaya, yaitu berbagi (sharing), keikhlasan (acceptance), dan kesyukuran (thankfulness).
Pertama, berbagi.
Belumlah orang itu menjadi kaya kalau ia belum mau mampu berbagi terhadap sesamanya. Dan percaya atau tidak, selama kita berperjalanan, ada banyak sekali kesempatan untuk berbagi kepada orang lain!
Kepada para pekerja transportasi becak atau sampan, guide yang memandu kita di lokasi, pemilik wisma yang kita tinggali, penduduk lokal yang membuka usaha es campur atau gorengan pisang. Ketika kita memutuskan membeli jasa mereka, di situ lah poin transaksi digulirkan. Sudah lumrah kan kalau harga-harga barang apapun di tempat wisata menjadi jauh lebih mahal? Selama masih wajar, ikhlasin aja, anggap aja lagi beramal. Hoho.
Kedua, acceptance.
Orang yang kaya adalah mendapatkan sesuatu lebih dari ekspektasinya. Jadi selama perjalanan santai sajalaah. Kita memang berada di luar zona nyaman kita. Ketidaknyamanan seharusnya menjadi hal yang wajar. Mabuk perjalanan, mual di atas kapal, kehujanan, toilet terminal bau pesing. Cara terbaik adalah to accept it.
Karena kalau kita mampu menekan ekspektasi kita, maka segala apa yang didapat menjadi berkali lipat lebih nikmat! Orang kaya!
Terakhir, kesyukuran.
Bersyukur diberi kekuatan fisik dan finansial melakukan perjalanan. Bersyukur menemukan matahari, laut, dan pasir. Bersyukur menghijaukan mata dengan pepohonan dan pegunungan. Bersyukur menikmati hidangan khas berbagai tempat. Bersyukur menikmati kaki yang pegal berjalan jauh di perbukitan maupun pusat perbelanjaan. Bersyukur diberi kesempatan hal-hal menakjubkan dan mengunjungi berbagai tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.
Percaya, kan, Segala yang sempat disyukuri maka akan dilipatgandakan? Dan otomatis, selamat menjadi orang kaya!
Mumpung..
Yak, salah satu yang memotivasi untuk sering berperjalanan ialah kata-kata mumpung! Mumpung masih muda, lajang dan senggang, sering-seringlah bepergian ke tempat yang kita mau.
Share aja nih, sudah ada beberapa cerita dari teman-teman senior, kalau kesempatan jalan-jalan setelah berkeluarga itu jadi semakin langka. Bakal terbentur tanggung jawab, atau minat berlibur si pasangan yang belum tentu sama, belum lagi kalau sudah punya momongan. Jauh lebih ribet dan experience-nya pasti beda kan? Ya ada saatnya lah kita juga bakal berlibur bersama calon keluarga kelak.
Tapi sekarang, mumpung masih muda, dan mumpung masih bisa seru-seruan, kapan nih jalan-jalan lagi??
Video GIF Compilation #Krakatours w/ @javastours
New Friends. 12-14 Oktober 2012. #Krakatours w/ @javastours
Perairan Krakatau. 13-14 Oktober 2012. #Krakatours w/ @javastours
“Karya Muda”. 13-14 Oktober 2012. #Krakatours w/ @javastours
Dermaga Canti, pagi-pagi. Lampung Selatan. 13 Oktober 2012, #Krakatours w/ @javastours

Jadi, udah nonton filmnya?
Yak. Baru nonton tadi malem sih, tapi kalau baca bukunya udah cukup lama, hampir setahun kali.
Kalo bukunya bagus nggak?
Awalnya baca halaman-halaman awal skeptis. Ini ceritanya kok gini. Seorang Dee bikin ginian?? Ini pop banget. Jadi inget cerpen jaman majalah Aneka. Tapi makin dalem dibaca makin bagus. Dee menunjukkan dengan bagaimanapun gaya dia menuturkan cerita, tetap cerita itu yang jadi kekuatan utama.
Emang ceritanya gimana?
Ya gitu deh. Pop romantis gitu sih. Romantisme dosis anak muda campur konflik personal masing-masing tokoh utama. Tentang cita-cita, idealisme, lalu ketemu realita. Sebagian realistis. Sebagian lainnya.. ya namanya juga novel, utopis. Tapi menghibur.
Terus kalo filmnya gimana? Bagus?
Lihat tanpa berkedip titik merah di foto sebelah KIRI.
Hitunglah paling tidak 15 detik di dalam hati.
Sekarang lihat background putih di sebelah KANAN.
:p
Coba deh bikin sendiri pake photoshop. Haha.
source: http://www.facebook.com/nnndaru/posts/433729930011347?notif_t=like